SELAMAT DATANG - REUNI AKBAR SMK TGB 2014 - 100% KAMI SIAP UNAS
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

6/29/2013

Harga BBM dan Nasib Pendidikan Kita

Pak Sukemi/Staf Khusus
Mendikbud BKM
 Oleh : Sukemi, Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi Media
     Artikel ini sudah dimuat di Koran Sindo, Jumat, 21 Juni 2013

Menyusul rencana pengalihan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) atau pengurangan subsidi BBM, dari subsidi berpola harga komoditas menjadi subsidi yang tepat sasaran, tampaknya pengumuman kenaikan harga BBM tinggal menunggu waktu saja.

Dengan kenaikan harga BBM premium sebesar Rp 2.000 dan BBM solar sebesar Rp 1.000, diperkirakan tingkat inflasi akan mencapai 7,2%. Akibat ini, dampak terbesar pasti dirasakan oleh masyarakat miskin/masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga angka kemiskinan akan meningkat.
Pengalaman menunjukkan, kenaikan harga BBM pada tahun 2005, dari Rp 2.400 ke Rp 4.500 (premium) dan dari Rp 2.100 ke Rp 4.300 (solar) menyebabkan angka kemiskinan meningkat dari 15,97% menjadi 17,75%.

6/22/2013

REPOT RAPOR REPOT



Benar saja. Repot. Begitulah satu kata ampuh untuk menggambarkan situasi menjelang pengambilan RAPOR. Apalagi bila angka-angka yang ada di dalam benda tersebut tidak cukup baik dari tahun sebelumnya. Tentu Orang Tua kita akan sedikit rajin melontarkan petuah-petuahnya. Rumusnya jelas, masuk telinga kiri, keluar telinga kiri. Lho? Ya, karena telinga kanannya disumpal headphone..

Apakah hal semacam ini terjadi di sekolah tercinta kita? Jawabannya tentu pasti. Yang saya tahu, prestasi siswa di sekolah ini cenderung turun. Ada juga sih yang naik. Tapi itupun menjadi bagian minoritas. Nah, umumnya nilai siswa di sekolah ini cenderung terjun bebas. Memanglah, tak bisa disalahkan kepada pelakunya. Maklumlah, setiap hari tentu kita banyak permasalahan yang datang. kadang-kadang masalah tersebut menghantui. mengejar-ngejar. memukul. menendang. Sampai akhirnya kita ambruk. Nyerah pada permasalahan yang membelit. Untung saja masih ada sisa nafas.

Nah, sisa-sisa nafas yang masih kita miliki sampai detik ini ayo kita pergunakan untuk berbuat sesuatu. Minimal sekadar menatap tajam setiap permasalahan yang hendak menjamah. Siswa yang naik kelas (digantung atau yang tidak digantung) perlu mensyukuri apa yang telah sampean peroleh. Boleh berbangga. Tapi jangan sampai membuat sampean kepalanya benjol. Ups, maksudnya kepalanya besar. nanti bisa bahaya.

Selanjutnya, teman-temanku yang kali ini belum berhasil untuk naik ke jenjang berikutnya, sampean pun ndak perlu takut. Jalan masih panjang Nak. Saya tahu, kalian punya potensi yang luar biasa. Cuma, kami sebagai guru masih terlalu bodoh untuk tahu. Tak ada yang perlu untuk disesali, jadikan ini sebagai cambuk untuk menjadi pribadi yang hebat. Buat keputusan ini sebagai sesuatu yang keliru, lalu buktikan bahwa kalian adalah pribadi yang hebat. Buktikan Nak. Doa kami selalu bersama kalian.

Repot. Kata-kata itu masih saja terngiang di telingaku. Tapi baiklah, serepot apapun kita, sore ini akan terus berjalan. malam sudah mulai memapas di kejauhan. Selamat beraktivitas teman-teman. Di akhir tahun ajaran ini, saya selaku manusia, minta maaf yang sebesarnya untuk kalian semua. Selalu ingatkan saya bila dalam langkah ke depannya, masih seperti ini saja. Sekali lagi mohon maaf.

Salam Pak Shodiq

4/10/2013

Langkah Menjadi Guru Yang Hebat


Membangun sebuah hubungan yang baik antara seorang guru dengan siswanya, merupakan salah satu cara agar siswa mengerti apa yang disampaikan, dan membuat aktivitas belajar mengajar menjadi menyenangkan. Bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan itu?  berikut beberapa cara yang mungkin bisa membantu Anda untuk menciptakan komunikasi yang efektif antara pengajar dan anak didik:
  • Carilah waktu yang tepat untuk membuat semua aturan, dan kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi tentang berbagai situasi, termasuk pada siswa yang ‘bermasalah’. Hari pertama merupakan saat yang tepat untuk melakukannya.
  • Seorang guru harus berjuang ke arah gaya mendidik yang proaktif. Selain ada keuntungan dari momen yang spontan, tapi dapat juga digunakan untuk berkomunikasi dengan siswa, misalnya mengatur jadwal berdiskusi di luar jam mengajar.
  • Mendengarkan merupakan bukti bahwa guru benar-benar mencoba untuk memahami dan merasakan pesan yang disampaikan. Hal ini membuat siswa yakin dan merasa dihargai bahwa apa yang mereka sampaikan mendapatkan perhatian.
  • Seorang guru harus memvalidasi apa yang dikatakan oleh siswanya. Namun, validasi tidak berarti guru setuju atau percaya dengan segala hal yang dikatakan siswa, tetapi untuk mengakui sudut pandang siswa. Validasi membantu siswa percaya bahwa guru mendengarkan dan menghormati pendapat mereka.
  • Berkomunikasilah dengan jelas dan memberikan tanggapan yang sesuai. Sikap empati dan melibatkan diri dalam berdiskusi dengan siswa akan mengurangi sikap defensif dan membuat siswa merasa nyaman.
  • Seorang guru sebaiknya tidak menghakimi, dan menuduh, tetapi harus memberikan pesan yang mudah ditafsirkan. Itu akan meningkatkan probabilitas siswa mendengarkan apa yang guru katakan.
  • Lakukanlah komunikasi yang rutin, singkat, dan terfokus dengan siswaa. Sebab, tidak semuanya harus diselesaikan dalam satu diskusi.
  • Berlakulah jujur jika tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukan siswanya. Tetapi, guru harus berjanji untuk berupaya menemukan jawaban sebelum kelas berikutnya.
  • Komunikasi adalah proses yang berkelanjutan. Siswa mungkin harus mendengarkan apa yang diajarkan berkali-kali sebelum mereka memahami dan masuk ke dalam pikirannya.
  • Humor adalah bahan penting dalam proses komunikasi. Humor dapat meringankan, dan menjadi fasilitas yang baik ketika seorang guru tengah mengajarkan sesuatu kepada muridnya.
*Sumber : uscta.wikidot.com via edukasi.kompas.com/Kartika Maharani

Bekerja atau Melanjutkan Pendidikan?


Kelulusan ujian adalah momen yang ditunggu banyak orang. Sebagian besar akan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, tapi tak sedikit yang memilih untuk bekerja karena alasan ekonomi. Sebelum Anda memutuskan melanjutkan studi atau bekerja, sebaiknya Anda mempertimbangkan berbagai hal, termasuk tujuan pribadi Anda ke depannya.
Jika memutuskan untuk bekerja setelah lulus, perhatikanlah jenis pekerjaan apa yang tepat untuk Anda. Berikut beberapa cara untuk mengetahui pekerjaan yang sesuai dengan minat Anda.

  • Cobalah beberapa tes minat dan kepribadian. Banyak tes secara online yang bisa Anda coba, untuk menentukan jenis pekerjaan yang cocok untuk Anda.
  • Sebelum mengambil profesi pekerjaan, perhatikan persyaratan pendidikan dalam pilihan pekerjaan tersebut.
  • Mengikuti kursus pelatihan kerja. Jika Anda mengikuti pelatihan kerja, Anda akan dipersiapkan untuk fokus pada satu pekerjaan tertentu, dengan durasi selama enam bulan atau satu tahun. Program pelatihan kerja ini seperti program pelatihan akademik, tapi ini lebih ringan.
  • Daftar militer. Jika Anda telah berusia 18 tahun, Anda dapat mencoba memilih pendidikan Kemiliteran. Kemiliteran akan membayar Anda untuk pendidikan di masa depan dan menawarkan bonus pendaftaran yang menarik.
  • Memulai usaha. Dengan merintis bisnis, Anda masuk ke dalam dunia yang waktunya bisa Anda kontrol. Ini akan menjadi pilihan yang baik jika tidak menemukan pekerjaan yang sesuai dengan Anda. Pada opsi ini, yang harus Anda lakukan adalah disiplin, fokus, dan serius.
*Sumber : edukasi.kompas.com/Kartika Maharani

4/02/2013

Kurikulum 2013: Instrumen Peningkatan Mutu Pendidikan




Oleh: Bambang Indriyanto
Peneliti Pada Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang, Kemdikbud


Secara konvensional terdapat kecenderungan bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan selalu dikaitkan dengan ketersediaan sarana dan prasana pendidikan yang memadai, serta kompetensi guru. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya betul. Ada komponen lain yang jarang disentuh yaitu kurikulum. Argumentasi yang dikemukakan pada tulisan ini adalah kurikulum merupakan instrumen strategis bagi upaya peningkatan mutu pendidikan.

Kenapa demikian?. Kurikulum sebagai instrumen peningkatan mutu pendidikan terdiri dari tiga entitas yaitu tujuan, metode, dan isi. Peningkatan kompetensi guru dan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan hanya akan memberikan makna bagi peserta didik jika diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam kurikulum. Pada konteks Sistem Pendidikan Nasional rumusan tersebut dirumuskan pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab Ketentuan Umum SKL didefinisikan sebagai “kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”.


Popular Posts